RIAUREALITA.COM — Penelitian di jurnal Fire MDPI mengungkap kebakaran lahan gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah menghabiskan lapisan tanah sedalam 21-24 cm dalam hampir sebulan. Api membara di bawah permukaan tanah, membakar material organik yang tersimpan ribuan tahun, bukan sekadar menghanguskan vegetasi di atasnya.
Studi berjudul "Loss and Recovery of Carbon in Repeatedly Burned Degraded Peatlands of Kalimantan, Indonesia" itu dilakukan tim peneliti University of Melbourne bersama peneliti kehutanan Indonesia. Mereka mengamati kebakaran gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah sepanjang 2019.
Mengapa Gambut Bisa Terbakar di Bawah Tanah
Gambut tersusun dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dalam kondisi basah dan terurai tidak sempurna. Ketika gambut mengering, material organik itu berubah menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Api kemudian menjalar ke bawah permukaan dan terus membara meski kobaran di atas tanah sudah tidak terlihat. Kehilangan lapisan tanah yang terukur dalam studi tersebut berasal dari pembakaran gambut, akar, rimpang pakis, dan material organik di lapisan atas.
Karbon yang Hilang dari 133.631 Hektare Lahan
Studi tersebut memperkirakan kebakaran pada 133.631 hektare lahan gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah melepaskan karbon dari bahan bakar permukaan dan lapisan gambut bagian atas. Angka ini menunjukkan dampak karhutla tidak cukup dinilai dari luas vegetasi yang hangus.
Pembakaran lapisan gambut berarti hilangnya material organik penyimpan karbon yang terbentuk selama ratusan hingga ribuan tahun. Kerusakan ini bersifat permanen dalam skala waktu manusia.
Pemulihan Vegetasi Tak Sama dengan Pemulihan Gambut
Penelitian itu memperkirakan vegetasi dapat kembali tumbuh setelah kebakaran. Namun pemulihan vegetasi tidak otomatis berarti lapisan gambut dan simpanan karbon yang hilang telah pulih sepenuhnya.
Lahan bisa terlihat hijau kembali sementara lapisan gambut di bawahnya tetap terkuras. Perbedaan ini penting bagi upaya restorasi yang selama ini lebih berfokus pada penanaman kembali dibanding pemulihan struktur tanah.
Menjaga Gambut Tetap Basah sebagai Kunci
Menjaga gambut tetap basah menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kebakaran. Lahan gambut yang lembap sulit terbakar karena material organiknya tidak berubah menjadi bahan bakar.
Kondisi sebaliknya terlihat di Kalimantan ketika api sudah merambat ke bawah permukaan. Pemadaman menjadi lebih sulit karena bara tersembunyi dan bertahan meski kobaran api di permukaan telah padam.
Pemadaman konvensional dengan air di permukaan tidak menjangkau bara di kedalaman. Dibutuhkan pendekatan berbeda, mulai dari pembasahan menyeluruh hingga pemantauan titik panas bawah tanah.
Implikasi bagi Kebijakan Karhutla
Temuan ini memperkuat argumen bahwa pencegahan lebih efektif dibanding pemadaman. Menjaga tingkat air di lahan gambut, terutama di area terdegradasi yang rentan, menjadi intervensi yang menyasar akar masalah.
Bagi pemerintah daerah dan pengelola lahan, data kehilangan karbon per hektare bisa menjadi dasar penghitungan kerusakan lingkungan. Angka ini juga relevan untuk klaim emisi dalam berbagai skema lingkungan internasional.
Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengukur berapa lama lapisan gambut butuh pulih setelah kebakaran berulang. Sementara itu, lahan gambut terdegradasi di Kalimantan dan Sumatera tetap menjadi wilayah paling rentan setiap musim kemarau.