Investasi Banten Rp 66,3 Triliun Semester I 2026, Enam Perusahaan Teken LoI

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:22:02 WIB
Realisasi investasi Banten mencapai Rp 66,3 triliun pada semester I 2026.

RIAUREALITA.COM — Realisasi investasi di Provinsi Banten mencapai Rp 66,3 triliun sepanjang semester I 2026, setara 46,63 persen dari target tahunan Rp 142,19 triliun. Capaian itu diperkuat lewat penandatanganan surat pernyataan minat berinvestasi atau Investment Letter of Intent oleh enam perusahaan pada Banten Investment Forum 2026. Bank Indonesia Banten menekankan komitmen tersebut masih harus ditindaklanjuti hingga tahap realisasi.

Enam perusahaan yang meneken LoI itu adalah Raybo Co. Limited, PT Winda Industrial Indonesia, PT Tukaka Craftwork Indonesia, PT Mingcheng Knitting Indonesia, PT Dragon Soar Industrial, dan PT Yuchuang Biotechnology Indonesia. Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian Banten Investment Forum (BIF) 2026 yang digelar terintegrasi dengan Karya Kreatif Banten (KKB) pada 9–11 Oktober 2026.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Sofwan Kurnia menyatakan besarnya potensi investasi daerah harus diimbangi kesiapan ekosistem pendukung. Ia menekankan hambatan investasi perlu diselesaikan agar komitmen yang dibangun tidak berhenti di atas kertas.

"Besarnya potensi investasi Banten harus diikuti dengan upaya memperkuat kesiapan ekosistem, menyelesaikan hambatan investasi, dan memastikan investasi yang masuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah," ujar Sofwan.

Realisasi 2025 Lampaui Target, Serap 214.216 Tenaga Kerja

Data BI Banten mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp 130,2 triliun atau 108,95 persen dari target. Investasi tahun lalu menyerap 214.216 tenaga kerja.

Performa semester I 2026 menempatkan Banten pada jalur yang sejalan dengan capaian tahun sebelumnya. Namun peluang dan komitmen yang terkumpul masih membutuhkan tindak lanjut agar berubah menjadi realisasi yang memberi nilai tambah bagi daerah.

Ekonomi Banten Tumbuh 5,49 Persen, di Atas Rata-Rata Nasional

Kinerja ekonomi Banten tumbuh 5,49 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi 30,97 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Banten pada 2025, menegaskan posisi investasi sebagai penopang utama perekonomian daerah.

Gubernur Banten Andra Soni menegaskan kualitas investasi tidak diukur semata dari besarnya nilai yang masuk. Menurutnya, investasi harus membuka lapangan kerja, melibatkan UMKM lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Investasi berkualitas bukan hanya tentang besarnya nilai investasi yang masuk, tetapi juga bagaimana investasi tersebut membuka lapangan kerja, melibatkan UMKM lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banten," kata Andra Soni.

Hambatan Lahan dan Tata Ruang Jadi Fokus Penyelesaian

BIF 2026 juga menghasilkan komitmen bersama untuk mempercepat penyelesaian hambatan investasi. Pihak yang terlibat meliputi Bank Indonesia Provinsi Banten, Kementerian ATR/BPN, BPN Provinsi Banten, DPMPTSP Provinsi Banten, dan Gubernur Banten.

Langkah tersebut diarahkan pada persoalan yang berkaitan dengan lahan dan tata ruang, dua isu yang kerap menahan proyek investasi masuk ke tahap konstruksi. Forum ini dirancang memperkuat pipeline investasi, mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor yang sesuai, sekaligus memetakan hambatan yang ada.

SDM Vokasi dan UMKM Jadi Kunci Rantai Pasok

Rangkaian KKB x BIF 2026 memuat agenda penguatan kesiapan sumber daya manusia vokasi melalui nota kesepahaman antara Modern Cikande dan Yayasan APINDO untuk APINDO Daya. Penguatan SDM vokasi dinilai penting untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja.

Bank Indonesia dan Pemprov Banten mendorong investasi berjalan beriringan dengan penguatan UMKM. Kemitraan dengan pelaku usaha lokal diharapkan memperluas keterlibatan mereka dalam rantai pasok industri, sehingga dampak investasi tidak hanya terpusat pada perusahaan besar.

Keberhasilan agenda ini akan bergantung pada tindak lanjut komitmen, kesiapan ekosistem pendukung, dan kemampuan seluruh pemangku kepentingan mengatasi hambatan investasi. Bagi pelaku usaha dan investor, sinyal yang perlu dicermati adalah seberapa cepat LoI berubah menjadi realisasi, terutama pada sektor industri pengolahan dan bioteknologi yang masuk dalam daftar enam perusahaan penandatangan.

Terkini