RIAUREALITA.COM — Konsumen mobil listrik bekas di Indonesia kini tidak lagi sekadar menawar harga, tetapi mulai menghitung biaya kepemilikan jangka panjang. Owner Garasi 91, Ferdian Kusuma Putra, menyebut kondisi baterai, masa garansi, hingga biaya pengisian daya jadi pertanyaan wajib sebelum transaksi. Sayangnya, pasar mobil listrik bekas masih kalah pamor dibanding mobil konvensional bekas dari sisi kepercayaan.
Harga mobil listrik bekas yang anjlok di pasaran memang menggoda konsumen dengan anggaran terbatas. Tapi menurut Ferdian Kusuma Putra, Owner Garasi 91, pola pertanyaan konsumen sekarang sudah bergeser jauh dari sekadar tawar-menawar harga.
Ferdian menyebut konsumen mobil listrik bekas kini menggali lebih dalam soal biaya yang harus disiapkan setelah kendaraan resmi jadi milik mereka. Perubahan ini terjadi karena konsumen mulai menghitung total biaya kepemilikan, bukan hanya harga beli.
Baterai Jadi Pertanyaan Paling Sensitif
Pada mobil konvensional bekas, pertanyaan standar biasanya berkisar soal konsumsi bahan bakar, servis berkala, suku cadang, dan potensi biaya perbaikan. Di mobil listrik bekas, daftar pertanyaannya bertambah panjang.
"Pada mobil konvensional, pertanyaan umumnya berkaitan konsumsi bahan bakar, servis berkala, suku cadang dan potensi biaya perbaikan. Sementara di mobil listrik bekas, konsumen juga bertanya kondisi baterai, biaya pengisian daya, masa garansi, perawatan hingga ketersediaan layanan purnajual," kata Ferdian dalam keterangannya.
Kondisi baterai jadi yang paling sering ditanyakan karena komponen ini menyumbang porsi biaya penggantian terbesar. Konsumen yang tidak jeli bisa terjebak membeli unit dengan kesehatan baterai yang sudah turun, sementara harga penggantian baterai baru bisa menembus puluhan juta rupiah.
Konsumen Mulai Hitung Biaya Setelah Beli, Bukan Cuma Harga
Ferdian melihat pergeseran ini sebagai tanda konsumen makin rasional. Mereka tidak berhenti di pertanyaan harga, tetapi mulai menghitung kemampuan merawat kendaraan dalam jangka panjang.
"Sekarang konsumen tidak berhenti di pertanyaan harga. Mereka mulai bertanya setelah mobil dibeli, biaya perawatan berapa, konsumsi hariannya bagaimana, sampai kalau nanti dijual kembali nilainya seperti apa. Artinya, yang dihitung bukan lagi hanya harga beli, tetapi biaya memiliki kendaraan secara keseluruhan," sambung Ferdian.
Pertanyaan soal nilai jual kembali jadi poin yang menarik. Depresiasi mobil listrik bekas masih jadi tanda tanya besar di pasar Indonesia, terutama karena teknologi baterai terus berkembang dan model baru bermunculan dengan harga makin kompetitif.
Cerita Konsumen: Takut Baterai Mahal, Akhirnya Berhitung Ulang
Chintia Aswanti, konsumen berusia 31 tahun, mengaku sempat ragu saat pertama kali mempertimbangkan mobil listrik bekas. Kekhawatiran soal baterai dan biaya perawatan membuatnya lebih dulu membandingkan sejumlah pilihan.
"Awalnya saya justru takut membeli mobil listrik bekas karena berpikir kalau ada masalah baterai pasti mahal. Setelah dihitung, ternyata yang lebih penting bukan cuma harga mobilnya, tetapi kondisi baterainya, garansi dan biaya pemakaian sehari-hari. Dari situ saya merasa mobil listrik bekas ternyata layak dipertimbangkan," ungkap Chintia.
Pengalaman Chintia menggambarkan pola yang sama: keraguan biasanya hilang setelah calon pembeli mendapat informasi detail soal kondisi unit dan garansi yang masih berlaku.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Transaksi
Ferdian menegaskan masuknya mobil listrik ke pasar kendaraan bekas membuat konsumen butuh informasi lebih detail sebelum mengambil keputusan. Mobil listrik bekas memang mulai dilirik, tetapi pilihannya masih sangat selektif.
- Kondisi baterai: minta laporan state of health (SoH) dan riwayat pengisian daya jika tersedia
- Masa garansi: pastikan garansi baterai masih berlaku dan bisa dialihkan ke pemilik baru
- Biaya pengisian harian: hitung konsumsi kWh per kilometer dikali tarif listrik rumah atau SPKLU
- Ketersediaan layanan purnajual: cek apakah bengkel resmi di kota Anda sudah menangani perbaikan baterai dan motor listrik
- Nilai jual kembali: pertimbangkan depresiasi yang masih belum stabil di pasar Indonesia
"Konsumen biasanya lebih banyak menggali informasi soal kondisi baterai, biaya perawatan dan penggunaan hariannya. Di sisi lain, mobil konvensional bekas masih memiliki pasar dan tingkat kepercayaan yang lebih kuat karena konsumen sudah lebih familiar dengan biaya perawatan, ketersediaan suku cadang maupun layanan servisnya," tukas Ferdian.
Mobil Listrik Bekas vs Konvensional Bekas
Dari sisi kepercayaan pasar, mobil konvensional bekas masih unggul. Konsumen sudah familiar dengan biaya perawatan, suku cadang mudah dicari, dan bengkel servis tersebar luas.
Mobil listrik bekas menang di biaya operasional harian yang lebih murah dan pajak yang lebih ringan, tetapi kalah di aspek kepastian biaya jangka panjang. Selama ekosistem purnajual mobil listrik belum seragam di seluruh Indonesia, konsumen wajib lebih teliti sebelum mengeluarkan uang.