Cuaca Panas Ekstrem dan Risiko Ibu Hamil: Yang Perlu Diwaspadai

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:22:01 WIB
Kepala Badan Perubahan Iklim PBB Simon Stiell berbicara dalam pertemuan pre-COP di Nadi, Fiji.

RIAUREALITA.COM — Survei terhadap 1.000 bidan dan dokter di lima benua menemukan lebih dari dua pertiga tenaga kesehatan melihat komplikasi kehamilan yang dikaitkan dengan paparan panas ekstrem. Ibu hamil di Indonesia perlu tahu risiko apa saja yang mengintai dan bagaimana melindungi diri saat suhu udara semakin sulit diprediksi.

Kepala Badan Perubahan Iklim PBB Simon Stiell menyampaikan peringatan serius dalam pertemuan pre-COP di Nadi, Fiji, Senin (5/10/2026). Ia merujuk hasil survei terhadap tenaga kesehatan di lima benua yang menunjukkan kaitan antara cuaca panas ekstrem dan komplikasi kehamilan.

Survei itu melibatkan 1.000 bidan dan dokter di Inggris, Australia, India, Brasil, dan Zimbabwe. Hasilnya, lebih dari dua pertiga responden pernah melihat komplikasi yang mereka kaitkan dengan paparan panas ekstrem dalam lima tahun terakhir.

Apa Saja Risiko Panas Ekstrem pada Ibu Hamil

Stiell menyebut sejumlah dampak yang semakin sering dikaitkan dengan cuaca panas ekstrem selama kehamilan. Mulai dari kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat badan lahir rendah, hingga komplikasi pada ibu.

Hampir seluruh bidan dan dokter dalam survei mengaku pernah menangani ibu atau bayi yang mengalami dampak panas ekstrem. Sekitar sepertiga responden melaporkan kasus berat badan lahir rendah atau pertumbuhan janin terhambat, kesulitan menyusu, dehidrasi, sampai penyakit yang berkaitan dengan paparan panas.

Mengapa Ibu Hamil Lebih Rentan

Stiell menegaskan kondisi ini tidak lagi bisa dipandang sebagai ancaman di masa depan. Menurutnya, dampaknya sudah terjadi sekarang dan menyentuh langsung kehidupan perempuan serta bayi yang baru lahir.

"Naiknya suhu berarti meningkatnya bahaya dalam kehamilan," kata Stiell, dikutip dari AFP.

"Cuaca panas ekstrem yang dipicu perubahan iklim selama kehamilan semakin dikaitkan dengan kelahiran prematur, bayi lahir mati, berat badan lahir rendah, dan komplikasi pada ibu," sambungnya.

Peringatan untuk Ibu Hamil di Indonesia

Stiell menggambarkan situasi ini sebagai titik rawan baru dalam krisis iklim global. Ia menilai kehamilan yang seharusnya menjadi masa penuh harapan justru berubah menjadi masa penuh kecemasan bagi jutaan perempuan.

"Gambarnya jelas dan sangat mengkhawatirkan. Ketika panas ekstrem semakin parah, kehamilan dan persalinan kini menjadi titik rawan baru dalam krisis iklim global, yang berpotensi mematikan," ujarnya.

Bagi ibu hamil di Indonesia, imbauan ini relevan mengingat suhu udara yang kian sulit diprediksi. Para ilmuwan sebelumnya telah memperingatkan bahwa perubahan iklim membuat kejadian cuaca ekstrem semakin intens, termasuk rekor suhu panas yang terus terpecahkan.

Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan

Meski riset ini berskala global, ada langkah praktis yang bisa ibu hamil lakukan sehari-hari. Perbanyak minum air putih, hindari aktivitas luar ruangan saat suhu paling tinggi, dan gunakan pakaian berbahan ringan serta menyerap keringat.

Jika merasakan pusing, lemas berlebihan, atau tanda dehidrasi, segera cari tempat sejuk dan hubungi tenaga kesehatan. Jangan ragu konsultasi ke bidan atau dokter kandungan bila ada keluhan yang tidak biasa selama kehamilan.

Yang Perlu Diingat

Kehamilan tetap bisa dijalani dengan tenang asalkan ibu waspada terhadap perubahan cuaca di sekitarnya. Pantau prakiraan suhu harian, atur waktu keluar rumah, dan pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

Dukungan keluarga juga penting, terutama untuk memastikan ibu hamil tidak terlalu lama terpapar panas. Dengan kewaspadaan yang tepat, risiko yang dipicu cuaca ekstrem bisa ditekan sejak dini.

Terkini