RIAUREALITA.COM — Pertamina menaikkan harga empat produk bahan bakar minyak non-subsidi pada penyesuaian awal bulan, dengan Pertamina Dex melonjak dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Kenaikan ini berlaku di tengah upaya perusahaan menyeimbangkan keekonomian produk dengan daya beli masyarakat. Bagi pengguna kendaraan diesel dan berperforma tinggi, penyesuaian ini langsung menambah biaya pengisian harian.
Paragraf pembuka: Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi Pertamina kembali terjadi pada periode awal bulan. VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyatakan bahwa penyesuaian dilakukan hanya pada sebagian produk. Keputusan ini mempertimbangkan keekonomian, daya beli, dan kondisi sosial masyarakat.
Rincian Kenaikan Harga per Liter
Melansir laman MyPertamina, Pertamina Dex mengalami kenaikan paling tajam, dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Produk diesel lain, Dexlite, juga naik dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter.
Untuk kendaraan berperforma tinggi, Pertamax Turbo dengan RON 98 naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Sementara Pertamax Green 95 mencatat kenaikan dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter.
“Penyesuaian harga dilakukan hanya sebagian produk BBM Non Subsidi yaitu Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite, sedangkan produk BBM Non Subsidi lainnya seperti Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 tidak mengalami penyesuaian harga. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan keekonomian, daya beli dan kondisi sosial masyarakat,” ujar Kitty Andhora.
Produk yang Tidak Berubah
Di tengah kenaikan sejumlah produk, Pertamina memastikan Pertamax 92 tetap stabil harganya. Begitu pula dengan Pertalite yang merupakan BBM penugasan bersubsidi, tidak mengalami perubahan.
Kebijakan ini memberi ruang bagi pengguna kendaraan bensin standar untuk tidak terdampak langsung. Namun, pemilik kendaraan diesel dan pengguna bahan bakar performa tinggi harus menyiapkan anggaran lebih.
Dampak ke Pengguna dan Rencana ke Depan
Kenaikan harga Pertamina Dex dan Dexlite berpotensi memukul sektor logistik dan angkutan barang yang selama ini mengandalkan solar non-subsidi. Biaya operasional armada diprediksi naik, yang bisa berimbas pada harga barang konsumsi.
Pertamina melakukan penyesuaian harga di setiap tanggal 1. Evaluasi bulanan ini menjadi acuan perusahaan dalam merespons pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
Bagi konsumen, langkah paling praktis adalah memantau harga di aplikasi MyPertamina sebelum mengisi bahan bakar. Perbandingan dengan produk kompetitor seperti Shell, BP, dan Vivo juga bisa menjadi pertimbangan.
Penutup: Kenaikan empat produk non-subsidi ini menegaskan posisi Pertamina yang tetap selektif dalam menyesuaikan harga. Dengan menjaga Pertamax 92 dan Pertalite tidak berubah, perusahaan berupaya meredam dampak ke masyarakat luas sambil menjaga margin produk diesel dan performa tinggi.