RIAUREALITA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan 61,51 poin atau 1,00% ke level 6.086,35 pada awal perdagangan Selasa (29/9/2026), merosot dari penutupan sebelumnya di 6.147,86. Pelemahan indeks berbarengan dengan mulai berlakunya kebijakan BEI yang memangkas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar, sementara rupiah turut terdepresiasi 0,53% ke Rp17.965/US$.
Data perdagangan Stockbit sekitar pukul 09.04 WIB menunjukkan IHSG sudah bergerak di zona merah sejak menit-menit pertama. Indeks dibuka di 6.118,81, sempat menyentuh titik tertinggi 6.126,62, lalu meluncur turun bertahap hingga level terendah harian 6.086,14.
Volume transaksi tercatat melonjak menjadi 35,12 juta lot dengan nilai transaksi Rp741,93 miliar. Lonjakan tersebut menandakan aktivitas pasar yang ramai, namun sebagian besar transaksi berlangsung di tengah tekanan jual.
Sektor Teknologi hingga Real Estat Kompak Melemah
Pelemahan indeks dipicu oleh koreksi di sejumlah sektor. Sektor teknologi turun 0,17%, disusul sektor kesehatan yang melemah 0,12%, dan sektor real estat yang ambruk 11%.
Sejumlah saham menjadi pemberat utama IHSG pagi ini, mulai dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Fortune Indonesia Tbk (FORU), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), hingga PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Di kubu sebaliknya, beberapa saham masih menopang pergerakan indeks, antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Aturan Harga Minimum Rp1 BEI Mulai Berlaku
Tekanan terhadap IHSG terjadi bertepatan dengan berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar. Aturan ini berlaku di pasar reguler dan pasar tunai sejak Senin (28/9/2026).
Perubahan tersebut disertai penyesuaian batas auto rejection. Untuk saham dengan harga Rp1 hingga Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1. Sementara ARB asimetris 15% masih berlaku bagi saham dengan harga di atas Rp10 hingga akhir 2026.
BEI menyebut penurunan harga minimum itu bertujuan memperluas rentang perdagangan saham, meningkatkan kualitas price discovery, mendorong likuiditas, serta memberi fleksibilitas lebih besar bagi investor dalam mengelola portofolio.
Rupiah Terdepresiasi, Sentimen Global Masih Menekan
Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan. Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,53% ke posisi Rp17.965/US$, hanya berjarak 35 poin dari level psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan eksternal masih membayangi pasar domestik. Kebijakan moneter global yang lebih ketat, penguatan dolar AS, kenaikan harga energi, serta tingginya suku bunga global berpotensi mendorong volatilitas pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Bagi investor, kombinasi aturan anyar BEI dan tekanan eksternal membuat sesi perdagangan hari ini perlu dicermati, terutama pada saham-saham berharga rendah yang kini masuk dalam rezim auto rejection baru.