RIAUREALITA.COM — PT Patra Drilling Contractor (PDC) mendampingi Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath'fal di Desa Temiyangsari, Kroya, Indramayu, hingga produksi tempe pesantren menembus 100 kilogram per hari atau 3 ton per bulan. Program Tempesantren yang berjalan sejak Juli 2025 ini mengubah dapur pesantren menjadi unit usaha dengan omzet Rp75 juta per bulan. Hasilnya kini memasok tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi untuk Program Makan Bergizi Gratis.
PDC, anak perusahaan Pertamina yang bergerak di jasa pengeboran hulu migas, mempertemukan dua sisi operasinya dalam Media Gathering 2026 pada 24-25 September lalu bersama 16 awak media nasional. Selain mengelola dapur produksi tempe di pesantren, PDC juga menjalankan dapur lapangan yang memasok makanan bagi pekerja rig di Indramayu.
Direktur Utama PDC Hery Lesmana menyebut kedua dapur itu sebagai wajah yang jarang terlihat dari industri hulu migas. Menurutnya, media berperan sebagai mitra strategis dalam membangun pemahaman publik soal bisnis dan kegiatan hulu migas.
Dari 40 Kilogram ke 3 Ton per Bulan
Program Tempesantren dimulai Juli 2025. PDC tidak hanya membangun rumah produksi dan menyediakan alat yang lebih higienis, tetapi juga melatih santri soal produksi, pemasaran, dan manajemen usaha.
Pimpinan Pesantren Tarbiyatul Ath'fal, KH Amin Royani, menuturkan kapasitas produksi yang dulu mentok 40 kilogram per hari kini melampaui 100 kilogram per hari. Omzetnya mencapai Rp2,5 juta per hari atau Rp75 juta per bulan, dengan laba bersih Rp15 juta per bulan.
Angka itu memberi pesantren napas ekonomi yang lebih panjang. Pesantren tersebut menggratiskan pendidikan dan asrama bagi santrinya, sekaligus membuka lapangan kerja bagi santri dan warga sekitar.
Tempe Santri Masuk Program Makan Bergizi Gratis
Produksi tempe pesantren kini dipasok ke tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Masuknya tempe santri ke rantai pasok program pemerintah itu menandai kualitas produksi yang sudah memenuhi standar pembeli institusi.
Hery menegaskan pendampingan PDC tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan pemberian peralatan.
"Pendampingan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan pemberian peralatan. Kami ingin pengelola memiliki kapasitas untuk menjaga kualitas, memperluas pasar, dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan," kata Hery.
Dapur Lapangan Jaga Pasokan 180 Pekerja Rig
Di dekat Rig PDSI #15.3/N110-M Indramayu, lima orang bekerja sejak subuh menyiapkan 720 porsi makanan untuk 180 pekerja rig dalam empat waktu makan. Area Coordinator FLS Jawa PDC Dhandy Yaneldo menjelaskan operasi pengeboran yang aman dimulai dari makanan yang aman.
Tim FLS PDC mengelola seluruh rantai, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga penyajian. Semuanya melewati pemeriksaan mutu dengan standar keamanan pangan untuk operasi hulu migas, bukan standar dapur rumahan.
"Layanan PDC di Rig PDSI #15.3/N110-M mencakup penyediaan makanan dan minuman serta layanan kebersihan porta camp," jelas Dhandy. "Kelancaran operasi rig turut didukung oleh kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi para pekerja."
Dua dapur itu menunjukkan peran PDC yang jarang tersorot: satu menjaga 180 pekerja rig tetap fit demi produksi energi nasional, satu lagi membuat pesantren mandiri secara ekonomi. Bagi industri hulu migas yang kerap dinilai hanya soal sumur dan produksi, program seperti Tempesantren menjadi cara perusahaan jasa pengeboran menautkan operasinya dengan ekonomi warga di sekitar wilayah kerja.