RIAUREALITA.COM — Banyak ibu hamil menghindari telur dan kacang karena takut memicu alergi pada bayi. Padahal, sebuah uji coba terhadap lebih dari 2.000 ibu hamil justru menguji apakah konsumsi kedua makanan ini bisa menurunkan risiko alergi anak. Berikut hasil lengkap dan panduan yang perlu ibu tahu.
Selama bertahun-tahun, menghindari makanan pemicu alergi seperti telur dan kacang dianggap cara paling aman melindungi bayi. Anggapan ini membuat banyak ibu hamil dan menyusui memilih menjauhi kedua makanan tersebut sejak awal kehamilan.
Namun, para ilmuwan kini mempertanyakan pendekatan itu. Sebuah uji coba acak berskala besar meneliti apakah ibu hamil yang makan telur dan kacang tanah dalam jumlah banyak benar-benar bisa menurunkan risiko alergi pada anaknya saat berusia 1 tahun.
Uji Coba PrEggNut: 2.137 Ibu Hamil Jadi Peserta
Penelitian bernama PrEggNut melibatkan 2.137 ibu hamil yang bayinya berisiko lebih tinggi mengalami alergi karena riwayat keluarga. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan pola makan berbeda.
Kelompok pertama diminta mengonsumsi minimal enam telur dan 60 kacang tanah setiap minggu, dimulai sebelum usia kehamilan 23 minggu dan berlanjut hingga empat bulan setelah melahirkan selama menyusui. Kelompok kedua menjalani diet standar, yaitu tidak lebih dari tiga telur dan 30 kacang tanah per minggu.
Hasilnya dipublikasikan di New England Journal of Medicine dan menunjukkan temuan yang bertolak belakang dengan dugaan awal.
Hasilnya: Risiko Alergi Nyaris Sama
Saat bayi berusia 1 tahun, peneliti melakukan tes tusuk kulit di rumah sakit. Jika hasilnya positif, bayi melanjutkan ke tantangan makanan, di mana dokter mengawasi dengan cermat saat bayi makan sedikit telur orak-arik atau selai kacang untuk memastikan apakah alergi benar-benar ada.
Sebanyak 7,8 persen bayi dari kelompok ibu dengan asupan telur dan kacang tinggi mengembangkan alergi, dibandingkan 8,4 persen dari kelompok standar. Selisihnya terlalu kecil untuk disebut signifikan.
Alergi telur terjadi pada 6,2 persen bayi di kelompok asupan tinggi, sementara kelompok standar 7,2 persen. Untuk alergi kacang tanah, angkanya identik di kedua kelompok, yaitu 2,6 persen. Tingkat eksim pun sebanding.
Artinya, menambah porsi telur dan kacang tanah selama kehamilan dan menyusui tidak memberi perlindungan ekstra terhadap alergi makanan pada bayi.
Lalu, Kapan Waktu Terbaik Mengenalkan Makanan Alergen?
Beberapa uji coba lain soal pemberian makan bayi dini justru menyarankan hal berbeda. Memperkenalkan makanan alergen lebih awal diduga bisa membangun toleransi, bukan memicu alergi. Sayangnya, belum ada batas waktu yang jelas seberapa dini sebaiknya dimulai.
Sebagian bayi yang rentan alergi sudah menunjukkan respons imun terhadap telur pada usia 4 bulan. Kondisi ini membuat pedoman saat ini, yang menganjurkan pengenalan makanan alergen pada usia 4 hingga 6 bulan, mungkin sudah terlambat untuk sebagian bayi.
Selama kehamilan, janin memang menelan alergen makanan yang ada dalam cairan amnion. Setelah lahir, bayi kembali bertemu protein yang sama melalui ASI. Pola paparan alami inilah yang membuat peneliti menduga kehamilan dan laktasi dini adalah jendela penting saat sistem kekebalan bayi belajar mentoleransi makanan.
Yang Perlu Ibu Lakukan
- Jangan panik dan langsung mengubah pola makan. Konsumsi telur dan kacang dalam jumlah wajar tetap aman bagi ibu hamil tanpa alergi.
- Diskusikan dengan dokter atau ahli gizi jika ibu atau pasangan punya riwayat alergi makanan, asma, atau eksim.
- Ikuti panduan pemberian makan bayi yang berbasis bukti, termasuk jadwal pengenalan makanan alergen sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Hindari menghapus satu kelompok makanan dari menu harian tanpa konsultasi, karena telur dan kacang tetap sumber protein dan nutrisi penting.
Kapan Harus ke Dokter
Segera konsultasi ke dokter anak jika bayi menunjukkan reaksi setelah makan telur atau kacang, seperti ruam merah, bengkak di wajah atau bibir, muntah berulang, diare, atau sesak napas. Reaksi berat butuh penanganan cepat.
Untuk ibu hamil, hubungi dokter bila muncul keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu atau jika ada kekhawatiran soal riwayat alergi keluarga. Dokter bisa membantu menyusun pola makan yang aman dan sesuai kebutuhan.
Menghindari telur dan kacang selama hamil ternyata bukan kunci pencegahan alergi pada anak. Yang lebih penting adalah memantau tumbuh kembang bayi, mengenalkan makanan alergen sesuai anjuran, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila ada risiko alergi dalam keluarga.