Pertamina EP Jatibarang Field Dongkrak Panen Petani Indramayu Jadi 11 Ton per Hektare

Kamis, 24 September 2026 | 08:22:32 WIB
Petani memanen padi di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu.

RIAUREALITA.COM — Program Jari Tangan Pertamina EP Jatibarang Field Zona 7 menaikkan hasil panen petani di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, dari 6,5 ton menjadi 8,5-11 ton per hektare. Program yang menyasar kawasan lumbung padi nasional itu mendampingi Kelompok Tani Gunda Rejeki sejak 2025 dan kini memasuki masa panen kedua. Selain menaikkan volume, frekuensi panen ikut naik dari sekali menjadi dua kali setahun.

Kondisi itu membuat Pertamina EP Zona 7 menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu perhatian utama, bersanding dengan urusan ketahanan energi. Program Jari Tangan menyasar Kelompok Tani Gunda Rejeki yang diketuai Suradi, dengan fokus memulihkan kesuburan tanah melalui bimbingan teknis sistem bertani berkelanjutan di Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Hasil Panen Naik, Biaya Produksi Turun

Dampak program terlihat pada angka panen. Volume gabah kering panen (GKP) naik dari rata-rata 6,5 ton per hektare menjadi 8,5 hingga 11 ton per hektare. Frekuensi panen juga bertambah, dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun.

Biaya produksi ikut terpangkas karena petani didorong mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Mereka memproduksi pupuk organik mandiri dari fermentasi limbah dan kotoran hewan.

Pendekatan lain yang diterapkan adalah pertanian berbasis Agens Hayati, seperti memanfaatkan musuh alami hama dan rumah burung hantu. Cara ini menekan kebutuhan pestana kimia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sawah.

Kesuburan Tanah Jadi Kunci

Officer Communication Relation & CID PT Pertamina EP Zona 7, Noor Taufiq, menuturkan program ini sudah berjalan sejak 2025 dan kini memasuki masa panen kedua. Menurutnya, kedekatan wilayah operasi dengan lahan pertanian membuat perusahaan perlu berdaya bersama warga.

"Masyarakat yang berada di wilayah operasi kami, khususnya di Pertamina EP Jatibarang Field, 90%-nya bersinggungan dengan lahan pertanian. Sehingga ini merupakan salah satu concern kami bagaimana kita bisa berdaya bersama, bersinergi di mana ketahanan pangan dan ketahanan energi," kata Taufiq di Desa Jatisura, Rabu (23/9/2026).

Ia menambahkan, hasil pendampingan kelompok tani terlihat jelas saat panen. Produksi gabah kering panen yang sebelumnya di kisaran 6,5 ton kini menyentuh 8,5 sampai 11 ton per hektare.

"Rata-rata produksi yang sebelumnya kami dampingi itu di 6,5 ton, saat ini kelompok tani pada saat panen, produksi GKP, gabah kering panennya itu di angka 8,5 sampai 11 ton bahkan," ungkap Taufiq.

Harapan Petani: Pendampingan Berlanjut

Ketua Kelompok Tani Gunda Rejeki, Suradi, berharap pendampingan tidak berhenti di musim panen kedua. Menurutnya, kerja sama yang berlanjut membuka peluang peningkatan hasil panen berikutnya.

"Harapannya sih program ini sudah berkelanjutan. Jadi ketika ada peningkatan sedikit, kalau masih ada kerjasama kan akan meningkat lagi. Mungkin saat ini fokus kita masih di tanam padi, tanam padi," ujarnya.

Bagi Indramayu, yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, kenaikan produktivitas di level kelompok tani menjadi sinyal penting. Program tanggung jawab sosial perusahaan di sektor hulu migas ini menunjukkan ketahanan energi dan ketahanan pangan bisa berjalan seiring, bukan saling menegasikan.

Terkini