Mau Pangkas Berat Badan? Ini Kata Dokter Gizi soal Jam Makan

Rabu, 23 September 2026 | 09:02:34 WIB
Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan waktu makan bukan faktor utama pen

RIAUREALITA.COM — Banyak ibu muda yang sedang menurunkan berat badan memilih melewatkan makan malam karena takut timbangan tidak bergerak. Padahal, dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menegaskan bahwa waktu makan bukan faktor utama penentu keberhasilan diet. Artikel ini mengupas tuntas kunci defisit kalori, pilihan porsi makan, dan cara diet sehat yang tidak menyiksa tubuh.

Menurunkan berat badan sering kali membuat ibu muda galau soal jam makan. Makan malam jadi musuh utama, padahal kuncinya bukan pada waktu, melainkan pada seberapa besar kalori yang masuk ke tubuh setiap hari.

Defisit Kalori, Bukan Jam Makan, yang Menentukan

Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa waktu makan bukan faktor utama yang menentukan keberhasilan diet. Hal terpenting adalah memastikan asupan kalori harian tubuh tetap berada dalam kondisi defisit kalori.

"Mau makan jam berapa aja boleh makan, asalkan defisit kalori itu benar," kata dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (10/9/2026).

Defisit kalori terjadi ketika jumlah energi yang masuk dari makanan dan minuman lebih rendah dibandingkan energi yang digunakan tubuh. Selama total asupan harian masih di bawah kebutuhan, penurunan berat badan tetap bisa terjadi.

Makan Malam Tidak Otomatis Bikin Gemuk

Makan malam tidak serta-merta membuat berat badan naik. Jika total kalori sehari masih dalam kondisi defisit, tubuh tetap membakar cadangan lemak untuk energi.

"Mau makan malam sekalipun, kalau memang sudah termasuk defisit kalori, nggak ada masalah," jelasnya.

Sebaliknya, melewatkan makan malam juga tidak otomatis membuat berat badan turun. Jika kalori sepanjang hari melebihi kebutuhan, berat badan tetap berpotensi bertambah meski tidak makan malam.

Porsi dan Pilihan Makanan Lebih Penting daripada Jam

Diet tidak perlu berfokus pada jam berapa makanan dikonsumsi. Pilihan dan porsi makanan yang seharusnya lebih diperhatikan.

Makan malam dengan porsi sesuai kebutuhan tentu berbeda dengan makan malam dalam jumlah besar setelah sepanjang hari sudah mengonsumsi banyak kalori. Makanan dan minuman tetap menyumbang kalori sesuai kandungannya walau dikonsumsi pada waktu berbeda.

Karbohidrat dan Nasi Tetap Dibutuhkan Tubuh

dr Yaze menekankan bahwa kebutuhan nutrisi setiap orang berbeda-beda. Karbohidrat, protein, dan lemak tetap dibutuhkan tubuh dengan jumlah yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Karbohidrat tidak perlu dihilangkan hanya karena sedang diet. Nasi juga tidak perlu dimusuhi selama porsinya disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian.

Diet Terlalu Ketat Justru Merugikan

Penurunan berat badan sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang terlalu ketat. Diet berlebihan dapat membuat massa otot ikut berkurang dan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.

Setelah berat badan berhasil turun, pola hidup sehat perlu dipertahankan dalam jangka panjang agar berat badan tidak kembali naik.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter Gizi?

Jika berat badan sulit turun meski sudah defisit kalori, atau muncul keluhan seperti lemas berlebihan, rambut rontok, dan siklus haid terganggu, sebaiknya konsultasikan ke dokter gizi. Kebutuhan kalori dan nutrisi setiap orang berbeda, terutama bagi ibu yang sedang menyusui atau memiliki kondisi medis tertentu.

Bagi yang sedang menjalani diet, tidak perlu terlalu terpaku pada larangan makan setelah jam tertentu. Makan malam tetap boleh dilakukan selama total asupan kalori masih dalam kondisi defisit dan kebutuhan gizi tetap terpenuhi. Fokuslah pada kualitas dan porsi makanan, bukan pada jam di dinding.

Terkini