RIAUREALITA.COM — Montenegro Shipping Lines melarang total mobil listrik dan hybrid naik ke kapal ferinya, baik sebagai kendaraan penumpang maupun kargo, menyusul insiden kebakaran feri MV June Aster pada 9 September. Kebijakan ini berlaku di tengah penyelidikan otoritas Filipina yang belum menemukan penyebab pasti kebakaran, sementara Departemen Energi setempat menyebut langkah itu bijak sembari menunggu standar keselamatan baterai yang lebih jelas.
Montenegro Lines menyebut langkahnya sebagai tindakan keselamatan preventif. Fokusnya risiko spesifik baterai: kebakaran, ledakan, dan thermal runaway — kondisi ketika sel baterai litium-ion memanas tak terkendali dan sulit dipadamkan dengan alat pemadam konvensional.
Aturan Baru untuk Nakhoda dan Petugas Terminal
Dalam memorandum itu, nakhoda diwajibkan berkoordinasi dengan personel operasi, terminal, tiket, pemuatan, dan kargo. Tujuannya memastikan tidak ada mobil listrik atau hybrid yang lolos ke dek kapal.
Kendaraan juga harus diidentifikasi dan diperiksa sebelum naik. Artinya, petugas di lapangan kini memikul beban verifikasi tambahan di titik masuk, bukan sekadar mencocokkan tiket dan manifest.
Respons Pemerintah Filipina
Departemen Energi (DOE) Filipina mengakui kekhawatiran yang disampaikan Montenegro Shipping Lines. Lembaga itu menilai larangan tersebut sebagai tindakan bijak sambil menunggu pengembangan standar mobilitas listrik di sektor kelautan yang lebih luas.
DOE menyatakan sedang bekerja sama dengan Biro Perlindungan Kebakaran (BFP) untuk menyusun aturan pelaksanaan Kode Keselamatan Kebakaran 2026. Regulasi itu akan memuat ketentuan yang menangani risiko baru dari kendaraan listrik dan baterai litium-ion.
Koordinasi juga berjalan dengan Otoritas Industri Maritim (MARINA) dan Penjaga Pantai Filipina (PCG) terkait penyelidikan kebakaran feri di Coron. Menteri Energi Sharon Garin menegaskan pemerintah ingin aturan yang jelas, seragam, dan berbasis sains tanpa menghambat pertumbuhan kendaraan listrik.
"Keselamatan harus diutamakan," ujar Garin. Ia menambahkan koordinasi dengan BFP dan otoritas maritim bertujuan melindungi penumpang dan kapal sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap kendaraan listrik.
Yang Perlu Diperhatikan dari Kebijakan Ini
- Memorandum Montenegro Lines tidak menyebut durasi berlaku atau mekanisme peninjauan ulang setelah penyelidikan selesai
- Penyebab kebakaran MV June Aster belum ditetapkan, sehingga kaitan langsung dengan baterai EV masih asumsi
- Larangan menyasar seluruh EV dan hybrid, bukan hanya kendaraan yang terbukti bermasalah
- Belum ada kejelasan bagaimana pemilik EV yang telanjur memesan tiket feri akan mendapat penggantian atau jalur alternatif
Dampak untuk Pengguna EV di Filipina
Filipina adalah negara kepulauan dengan ribuan rute feri antarpulau. Kalau kebijakan Montenegro Lines ditiru operator lain, mobilitas kendaraan listrik antarpulau bisa terhambat signifikan. Pemilik EV yang hendak menyeberang bersama kendaraannya perlu memeriksa kebijakan operator masing-masing sebelum memesan tiket.
Pemerintah Filipina lewat Kode Keselamatan Kebakaran 2026 berpeluang menetapkan standar tunggal, sehingga larangan sepihak operator bisa digantikan prosedur baku. Namun sampai regulasi itu keluar dan penyelidikan Coron tuntas, operator feri lain berpotensi mengikuti langkah Montenegro Lines demi melindungi diri dari risiko hukum dan asuransi.