Review Mazda CX-80: PHEV Premium yang Masih Terasa Seperti Mobil Bensin

Ahad, 20 September 2026 | 12:42:01 WIB
Mazda CX-80 mengusung mesin 2.500 cc e-SKYACTIV PHEV dengan transmisi otomatis delapan percepatan.

RIAUREALITA.COM — Mazda CX-80 menawarkan pendekatan berbeda di segmen PHEV premium: mempertahankan sensasi berkendara mobil bensin lewat transmisi otomatis delapan percepatan, bukan e-CVT. Dengan harga Rp 1.199.900.000, SUV tiga baris ini menyasar pengguna yang mengutamakan rasa kemudi ketimbang sekadar efisiensi. Namun, ketiadaan DC charging jadi catatan serius untuk mobil seharga ini.

Di tengah gelombang mobil plug-in hybrid yang berlomba mengejar efisiensi dan keheningan, Mazda CX-80 memilih jalur yang berbeda. SUV premium ini tetap mempertahankan karakter berkendara yang terasa seperti mobil bermesin bensin konvensional. Kesan itu muncul sejak pertama kali mobil dibawa melaju.

Pendekatan tersebut bukan tanpa alasan. Banyak PHEV modern kini mengandalkan e-CVT atau transmisi single-speed yang membuat pengalaman berkendara terasa hambar. Mazda menolak mengikuti arus itu.

Mesin 2.500 cc Dipadukan Transmisi Delapan Percepatan

CX-80 mengusung mesin 2.500 cc empat silinder e-SKYACTIV PHEV dengan output 191 PS dan torsi 261 Nm. Yang membedakan dari kompetitor, Mazda tidak memasangkan mesin tersebut dengan e-CVT atau transmisi single-speed.

Sebagai gantinya, CX-80 menggunakan transmisi otomatis delapan percepatan. Hasilnya, setiap injakan pedal gas masih menghadirkan sensasi perpindahan gigi, suara mesin yang naik putarannya, hingga sedikit hentakan yang membuat pengalaman berkendara terasa lebih hidup.

Bagi sebagian orang, karakter ini mungkin terasa kuno di era mobil listrik. Tapi bagi penggemar mengemudi, justru inilah daya tarik utamanya.

Jarak Tempuh Listrik 60 Km dan Tangki 70 Liter

Meski mempertahankan rasa mesin bensin, CX-80 tetap menawarkan keunggulan utama sebuah PHEV. Dalam kondisi baterai penuh, mobil bisa melaju menggunakan tenaga listrik hingga sekitar 60 km.

Jarak itu cukup untuk mobilitas harian sebagian pengguna. Mobil dipakai bekerja pagi hari, lalu diisi ulang menggunakan wall charger begitu sampai rumah. Dengan pola ini, mesin bensin jarang bekerja dan konsumsi BBM harian bisa ditekan.

Untuk perjalanan jauh, mesin bensin mengambil alih peran. Tangki bahan bakar berkapasitas 70 liter membuat pengguna tidak terlalu bergantung pada stasiun pengisian daya saat bepergian ke luar kota.

Belum Ada DC Charging, Pengisian di Perjalanan Lebih Lama

Catatan sekaligus kekurangan paling signifikan CX-80 adalah belum mendukung DC charging. Artinya, pengisian baterai saat perjalanan jauh membutuhkan waktu lebih lama dibanding PHEV yang sudah punya fitur fast charging.

Konsekuensinya, pengguna harus lebih disiplin mengisi daya di rumah. Mobil ini memang paling ideal untuk pemilik yang punya akses wall charger di rumah, bukan yang mengandalkan pengisian di perjalanan.

Dimensi Besar Tapi Tetap Mudah Bermanuver

Dengan panjang 4.990 mm dan wheelbase 3.120 mm, CX-80 jelas bukan SUV kecil. Namun dimensi tersebut tidak membuatnya merepotkan untuk penggunaan harian.

Setir menjadi salah satu bagian yang paling menyenangkan. Responsnya nurut, komunikatif, dan bobotnya pas. Untuk putar balik maupun bermanuver di perkotaan, CX-80 masih mudah dikendalikan.

Suspensinya tidak bisa disebut paling empuk di kelasnya. Ada karakter firm yang membuat body roll minim dan mobil terasa mantap saat melaju cepat. Tapi hentakan transmisi pada kondisi tertentu terkadang terasa cukup kasar.

Interior Sederhana Tapi Berkelas, Tombol Fisik Masih Dipertahankan

Pendekatan Mazda juga terasa pada interior. CX-80 tidak mencoba terlihat mewah dengan ornamen berlebihan. Material, bentuk, dan detail kabinnya dibuat sederhana tetapi berkelas.

Fitur yang tersedia cukup lengkap:

  • Panoramic sunroof
  • Audio Bose
  • Ventilated seat
  • Kamera 360 derajat
  • ADAS

Mazda masih mempertahankan banyak tombol fisik. Bahkan fitur ADAS bisa dimatikan dan pengaturannya tetap tersimpan. Pendekatan ini terasa sederhana, tetapi menunjukkan Mazda memahami kebutuhan penggunanya.

Sebagai SUV tiga baris, CX-80 menawarkan akomodasi yang fleksibel. Konfigurasi captain seat di baris kedua menjadi tempat paling nyaman, sementara baris ketiga masih cukup memadai untuk perjalanan tertentu.

Kelebihan

  • Karakter berkendara masih terasa seperti mobil bensin berkat transmisi delapan percepatan
  • Jarak tempuh listrik 60 km cukup untuk mobilitas harian dalam kota
  • Tangki 70 liter memberi fleksibilitas perjalanan jauh tanpa khawatir kehabisan daya
  • Setir komunikatif dan bobotnya pas, mudah bermanuver meski dimensinya besar
  • Interior sederhana tapi berkelas dengan tombol fisik yang fungsional

Kekurangan

  • Belum mendukung DC charging, pengisian baterai di perjalanan jauh lebih lama
  • Hentakan transmisi pada kondisi tertentu terasa cukup kasar
  • Suspensi firm, kurang empuk untuk yang mengutamakan kenyamanan maksimal
  • Harga Rp 1.199.900.000 menempatkannya di segmen premium yang kompetitif

Verdict: Untuk Siapa Mazda CX-80?

Mazda CX-80 bukan PHEV yang dibuat untuk semua orang. Dengan harga Rp 1.199.900.000, mobil ini menawarkan sesuatu yang lebih sulit dihitung dengan angka. Ia tidak mencoba menjadi PHEV paling murah atau paling senyap.

Mazda justru mempertahankan sesuatu yang dianggap masih penting: rasa ketika berada di balik kemudi. Mobil ini cocok untuk pengguna yang punya akses wall charger di rumah, mengutamakan pengalaman mengemudi, dan tidak keberatan dengan ketiadaan DC charging.

Sebaliknya, CX-80 kurang ideal bagi yang sering perjalanan jauh tanpa akses pengisian di rumah, atau yang mengutamakan kenyamanan suspensi empuk dan efisiensi maksimal khas PHEV modern.

Terkini