PEKANBARU — Bencana dahsyat yang melanda Nepal utara memasuki pekan kedua dengan jumlah korban yang kian membengkak. Laporan yang dikutip dari Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal menyebut angka 1.204 jiwa meninggal dunia, melonjak dari catatan sebelumnya yang mencapai 1.127 korban seperti diberitakan Kathmandu Post. Kawasan wisata pendakian yang biasanya ramai kini menjadi lokasi pencarian korban paling intensif.
Bagaimana Dampaknya terhadap WNI di Nepal?
Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI Kathmandu disebut tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memverifikasi keberadaan warga negara Indonesia. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai WNI yang menjadi korban. Namun, ratusan pendaki asing yang terjebak dilaporkan berhasil dievakuasi, dengan otoritas bencana Nepal mencatat sebanyak 330 warga negara asing selamat dari terjangan air bah pada Selasa (1/9) lalu.
Proses evakuasi berlangsung dramatis mengingat medan yang sulit dijangkau. Wilayah utara Nepal yang berbatasan dengan Tibet merupakan gerbang menuju sejumlah puncak tertinggi dunia, sehingga arus pendaki asing memang tinggi sepanjang musim pendakian. KBRI disebut terus memantau perkembangan dan menyiapkan langkah darurat bagi WNI yang membutuhkan bantuan.
Kronologi Bencana dan Dugaan Penyebabnya
Banjir bandang terjadi pada Rabu pagi, 26 Agustus, saat gelombang air berkecepatan tinggi dari arah China menghantam Sungai Bhote Koshi. Aliran deras itu dengan cepat menyapu pemukiman dan infrastruktur di Nepal bagian utara dalam hitungan menit, memberikan sedikit waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri.
Para ahli menduga peristiwa ini dipicu oleh menyusutnya gletser yang kemudian memicu tanah longsor besar. Material longsoran yang bercampur dengan volume air raksasa dari danau glasial itu memperparah daya rusak banjir, meratakan bangunan di sepanjang aliran sungai. Fenomena ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim yang memicu pencairan es secara cepat.
Apa Langkah Penanganan Selanjutnya?
Tim penyelamat gabungan masih dikerahkan untuk mencari warga yang dilaporkan hilang dan mengevakuasi korban selamat ke tempat yang lebih aman. Rumah sakit darurat didirikan untuk menangani korban luka, sementara pasokan air bersih dan makanan menjadi prioritas utama bagi para pengungsi.
Otoritas Nepal memperingatkan bahwa jumlah korban masih berpotensi bertambah seiring meluasnya area pencarian. Proses identifikasi korban menghadapi kendala karena banyaknya material lumpur dan bebatuan yang menimbun lokasi kejadian. Pemerintah setempat juga mulai mengkaji sistem peringatan dini untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan, mengingat wilayah pegunungan menyimpan banyak danau glasial yang berisiko jebol.