RIAUREALITA.COM — Keputusan ini diumumkan langsung oleh Direktur WFP untuk Palestina, Shaun Hughes, dalam konferensi pers di Jenewa, Kamis (3/9/2026). Padahal, situasi di lapangan justru menuntut perluasan jangkauan bantuan, bukan pengurangan. "Saat ini, kita harus meningkatkan bantuan kita di Tepi Barat, bukan memotong jalur vital ini," tegas Hughes.
Pemangkasan di Tengah Krisis yang Memburuk
WFP menilai penurunan jumlah penerima ini merupakan konsekuensi logis dari krisis pendanaan global. Kontribusi dari sejumlah donor Barat, terutama AS, telah merosot tajam sejak tahun lalu karena negara-negara tersebut mengalihkan prioritas belanja ke kebutuhan domestik dan pertahanan.
Padahal, kebutuhan di lapangan meningkat drastis. Menurut Hughes, pembatasan pergerakan yang parah, pembongkaran, dan pemindahan paksa yang meluas telah mengikis mata pencaharian warga Palestina. "Mereka sekarang mendapati diri mereka dalam keadaan tercekik, tidak dapat bergerak bebas untuk mengakses tanah atau pekerjaan, dan karenanya tidak mampu membeli makanan untuk keluarga mereka," ujarnya.
Para pekerja kemanusiaan mengategorikan kondisi ini bukan sekadar krisis pangan, melainkan krisis hak asasi manusia yang terus memburuk. Warga Palestina di area pedesaan dan wilayah selatan seperti Hebron menjadi kelompok yang paling merasakan dampak pemangkasan bantuan, yang sebelumnya disalurkan dalam bentuk makanan, voucher, dan bantuan tunai.
Kekerasan dan Penyitaan Tanah Meningkat Sejak 7 Oktober
Pemangkasan bantuan ini berlangsung di tengah meningkatnya kekerasan serta penyitaan tanah dan sumber air oleh pemukim Yahudi di Tepi Barat. Kondisi tersebut berlangsung nyaris tiga tahun sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023.
Badan-badan PBB dan mayoritas negara di dunia menganggap permukiman Israel di wilayah pendudukan sebagai tindakan ilegal menurut hukum internasional. Sebaliknya, pemerintah Israel menilai Tepi Barat sebagai wilayah yang statusnya masih disengketakan dan belum final.
Ancaman Lanjutan untuk Operasi di Gaza
Krisis keuangan yang sama juga mengancam keberlanjutan operasi WFP di Jalur Gaza, di mana badan tersebut saat ini menyediakan bantuan untuk sekitar 1,5 juta orang. WFP memberi peringatan keras bahwa skenario terburuk masih mungkin terjadi.
"Pemotongan lebih lanjut tidak akan dapat dihindari kecuali jika dana tambahan dijamin," demikian pernyataan resmi WFP. Organisasi tersebut kini tengah menjajaki berbagai opsi pendanaan darurat dari negara-negara donor dan lembaga filantropi global untuk menutup defisit anggaran yang semakin lebar.