Kemandirian pangan tidak selalu dimulai dari program besar pemerintah. Di Dusun Pinang, keterbatasan lahan justru disulap oleh sekelompok ibu rumah tangga menjadi sumber pangan sekaligus penghasilan tambahan yang berkelanjutan.
Dari Pekarangan Rumah ke Kebun Bersama
Sejak Juli 2025, KWT Pinang Lestari menggarap lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal. Kini lahan itu ditanami kangkung, jagung, kacang panjang, sawi, terong, hingga kunyit.
Kegiatan ini mengubah rutinitas anggota yang sebelumnya lebih banyak di rumah. Kini, mereka punya jadwal berkebun bersama, saling berbagi pengetahuan, dan mengelola hasil panen secara kolektif.
Pasiah, Ketua KWT Pinang Lestari menyebut pendampingan ini membuat para anggota lebih percaya diri mengelola tanaman pangan.
“Yang paling terasa, sekarang kami lebih semangat berkebun karena bisa melakukannya bersama-sama serta hasilnya lebih optimal berkat pendampingan ini. Hasil kebun dapat kami manfaatkan di rumah, dan sebagian juga bisa dijual untuk menambah penghasilan kelompok,” kata Pasiah.
Bukan Sekadar Sayur: Pinang, Kopi, dan Kerajinan Tangan
Potensi Dusun Pinang tidak berhenti pada sayuran. Anggota KWT juga mengembangkan tanaman khas yang menjadi identitas dusun, seperti pinang, kopi, dan kemunting.
Nilai tambah lain didapat dari kerajinan tangan. Para anggota memproduksi anyaman dan tas sumpet yang bahan bakunya tersedia di sekitar permukiman mereka. Ini menjadi sumber pendapatan tambahan ketika musim panen sayur sedang tidak berjalan.
Peran Perusahaan: Memperkuat, Bukan Mengganti
PT Bumi Permai Lestari (BPL), anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food, bersama Sekolah Tani Indonesia masuk sebagai pendamping sejak awal pembentukan kelompok. Materi pendampingan mencakup teknik budidaya, pemeliharaan, pemanfaatan lahan, dan pengelolaan organisasi kelompok.
Ismail Arsyad, Region Controller PT Bumi Permai Lestari, menyebut pemberdayaan yang dilakukan harus berangkat dari potensi yang sudah dimiliki masyarakat. "Dusun Pinang memiliki potensi yang tumbuh dari masyarakat dan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Melalui pendampingan ini, kami berharap potensi tersebut dapat terus dikembangkan, tanpa meninggalkan nilai dan identitas lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dusun Pinang," ujarnya.
Pendampingan juga mencakup penyediaan sarana produksi dan prasarana kebun, sehingga kegiatan kelompok berjalan lebih terarah sejak awal.
Harapan Agar Ilmu Tidak Berhenti di Satu Generasi
Yusuf, Kepala Desa Terentang, berharap keterampilan yang diajarkan bisa terus diwariskan. “Harapan kami, ilmu yang diperoleh masyarakat bisa terus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jangan sampai berhenti pada orang yang belajar hari ini, tetapi terus dibagikan kepada yang lain agar semakin banyak warga yang bisa memanfaatkan potensi yang ada di Dusun Pinang,” tuturnya.
Perkembangan KWT Pinang Lestari mendapat pengakuan setelah masuk dalam tiga besar grand finalis Tjipta UMKM Award 2026 kategori Inspiratif. Pengakuan ini menempatkan kelompok tersebut sebagai contoh pemberdayaan perempuan berbasis pangan lokal yang layak ditiru daerah lain.