Pekanbaru - Tim gabungan dari Bidang KSDA Wilayah II Siak, BPBD Kabupaten Siak, Yayasan Arsari Djojohadikusumo, kembali melakukan upaya penanganan konflik satwa harimau Sumatera di Desa Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari insiden serangan harimau yang menyebabkan seorang warga mengalami luka-luka pada 4 September 2024 lalu.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Genman Suhefti Hasibuan melalui Kepala Bidang KSDA Wilayah II Siak, Mustafa Imran Lubis mengatakan, tim telah melakukan pengecekan terhadap dua unit kamera jebak (camera trap/CT) yang dipasang sejak tanggal 7 September 2024 di koordinat 0.922238, 102.282018 dan 0.921918, 102.282502. Hasilnya, tidak ditemukan adanya aktivitas satwa liar, khususnya harimau sumatera, yang terekam dalam periode pemantauan.
"Teknologi drone thermal kembali digunakan untuk melacak keberadaan harimau Sumatera di wilayah tersebut pada malam hari, namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau Sumatera maupun satwa mangsanya," ujar Mustafa melalui laporan tertulis, Selasa (24/9/2024).
Untuk mencegah konflik dengan satwa harimau Sumatera, sejumlah spanduk telah dipasang di jalan lintas Buton Sungai Rawa. Spanduk berisi pesan seperti Awas daerah perlintasan satwa HS dan Dilarang berburu, diharapkan masyarakat lebih waspada dan ikut menjaga kelestarian satwa, ucapnya
"Setelah dilakukan monitoring Intensif selama hampir dua minggu menggunakan kamera jebak (CT) dan drone thermal, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau Sumatera di sekitar Desa Sungai Rawa. Hasil ini telah dikoordinasikan dengan Kepala Desa setempat," kata Mustafa.
Ia mengungkapkan bahwa kemunculan harimau Sumatera dilokasi tersebut diduga kuat akibat tingginya aktivitas pembukaan lahan di Jalan Datuk 50 dalam sebulan terakhir. Hal ini berdasarkan informasi dari warga setempat, Ahmad.
"Kemunculan harimau Sumatera dilokasi tersebut diduga karena semakin terbatasnya sumber makanan di habitat aslinya. Akibatnya, satwa predator ini terpaksa keluar dari wilayah jelajahnya untuk mencari mangsa alternatif, seperti ternak," ungkapnya.
Mustafa menambahkan, aktivitas manusia, baik pembukaan lahan maupun perburuan, diduga menjadi faktor utama yang mendorong harimau Sumatera keluar dari habitatnya dan mendekati permukiman warga.
"Dari hasil monitoring tidak menunjukkan adanya aktivitas mangsa HS, sementara warga melaporkan adanya perburuan babi oleh warga Nias di Desa Penyengat," sambungnya.
Pihaknya telah menyampaikan imbauan melalui Kepala Desa agar masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas, terutama saat berada diluar rumah.
"Masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas di kebun atau di lokasi yang telah teridentifikasi sebagai jalur perlintasan harimau Sumatera, terutama pada pagi dan sore hari," pungkas Mustafa.